
Apa itu co card? Kenali pengertian, fungsi, ukuran, isi, dan perbedaan co card dengan ID card untuk seminar, event, organisasi, dan kegiatan lainnya.
Kalau Anda pernah datang ke seminar, workshop, konferensi, gathering perusahaan, atau kegiatan organisasi, kemungkinan Anda pernah melihat orang-orang mengenakan kartu identitas yang digantung di leher. Ada yang bertuliskan PANITIA, ada yang bertuliskan PESERTA, SPEAKER, VIP, atau kategori lainnya.
Kartu seperti itu sering disebut co card atau cocard.
Istilahnya memang cukup sering digunakan dalam kegiatan atau event di Indonesia. Namun, co card bukan berarti memiliki satu bentuk dan ukuran yang wajib sama untuk semua acara. Bentuknya bisa berbeda-beda tergantung kebutuhan penyelenggara, siapa yang menggunakan, informasi apa yang ingin ditampilkan, dan bagaimana kartu tersebut akan digunakan.
Jadi kalau Anda sedang mencari “co card adalah apa?”, jawaban sederhananya adalah: co card merupakan kartu identitas yang digunakan untuk mengenali seseorang sekaligus menunjukkan identitas atau perannya dalam suatu kegiatan.
Misalnya dalam sebuah seminar ada peserta, panitia, pembicara, tamu VIP, dan media. Dengan co card, orang tidak perlu mengenal satu per satu untuk mengetahui siapa yang sedang mereka temui. Cukup melihat kartu yang dikenakan, perannya sudah bisa diketahui.
Co card adalah kartu identitas yang dibuat untuk kebutuhan sebuah kegiatan atau acara. Kartu ini dapat memuat nama pemegang, foto, asal instansi, jabatan, kategori peserta, nama acara, logo penyelenggara, dan informasi lain yang memang diperlukan.
Contohnya begini. Sebuah perusahaan mengadakan workshop dengan 200 peserta. Di dalam acara tersebut ada 20 orang panitia dan beberapa pembicara. Kalau semua orang tidak menggunakan identitas yang jelas, peserta akan cukup kesulitan ketika ingin bertanya atau meminta bantuan.
Panitia kemudian menggunakan co card dengan tulisan PANITIA yang dibuat cukup menonjol. Pembicara menggunakan kartu dengan label SPEAKER, sedangkan peserta mendapatkan kartu dengan kategori PESERTA.
Nah, dari situ fungsi co card langsung terasa. Kartu tersebut bukan sekadar pajangan atau aksesori, tetapi menjadi penanda visual yang membantu orang mengenali siapa seseorang dan apa perannya dalam kegiatan tersebut.
Istilah co card sendiri juga bisa ditulis dengan beberapa variasi, seperti cocard atau co-card. Dalam pencarian internet, orang bisa menggunakan istilah yang berbeda-beda untuk kebutuhan yang sebenarnya serupa.
Karena itu, ketika Anda menemukan pencarian seperti “apa itu cocard”, “cocard adalah”, atau “cocard itu apa”, konteks yang dimaksud biasanya masih berkaitan dengan kartu identitas untuk kegiatan.
Fungsi paling utama co card adalah memudahkan identifikasi.
Bayangkan Anda datang ke sebuah konferensi yang pesertanya mencapai ratusan orang. Anda ingin mencari panitia karena tidak tahu ruangan seminar berikutnya ada di mana. Kalau panitia menggunakan co card dengan tulisan “PANITIA” yang terlihat jelas, Anda tinggal mencari orang dengan identitas tersebut.
Hal sederhana seperti ini bisa membuat sebuah acara terasa jauh lebih terorganisir.
Selain untuk menunjukkan identitas, co card juga dapat digunakan untuk membedakan kategori atau peran seseorang. Ini sangat berguna ketika dalam satu acara terdapat banyak kelompok yang memiliki kebutuhan berbeda.
Misalnya:
| Kategori | Informasi yang dapat ditonjolkan |
|---|---|
| Panitia | Nama, foto, PANITIA, divisi |
| Peserta | Nama, instansi, PESERTA |
| Speaker | Nama, foto, SPEAKER, instansi |
| VIP | Nama, instansi, VIP |
| Media | Nama, media, MEDIA |
| Crew | Nama dan bagian/divisi |
Jadi, ketika seseorang melihat kartu tersebut, mereka tidak harus membaca seluruh informasi. Label kategorinya sudah memberikan petunjuk awal.
Co card juga bisa menjadi bagian dari branding acara. Logo perusahaan, nama kegiatan, warna corporate, tema acara, atau identitas organisasi dapat dimasukkan ke dalam desain.
Namun ada satu hal yang perlu diingat. Jangan sampai karena ingin membuat co card terlihat keren, informasi utamanya justru menjadi sulit dibaca. Kartu identitas tetap harus menjalankan fungsi utamanya sebagai identitas.
Isi co card sebenarnya sangat fleksibel. Tidak ada satu susunan informasi yang harus digunakan untuk semua kegiatan.
Kalau acaranya sederhana, mungkin nama dan kategori peserta sudah cukup. Tetapi kalau acaranya lebih besar, informasi yang diperlukan bisa lebih banyak.
Umumnya, informasi yang dapat dimasukkan antara lain nama lengkap, foto, nama perusahaan atau institusi, jabatan, kategori peserta, nama acara, logo penyelenggara, dan elemen branding lainnya.
Pada kegiatan tertentu, QR code atau nomor peserta juga dapat ditambahkan apabila memang digunakan dalam sistem registrasi atau operasional acara.
Yang perlu dipikirkan bukan “sebanyak apa informasi yang bisa dimasukkan”, tetapi informasi apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pemakai dan orang yang melihat kartu tersebut.
Misalnya nama merupakan informasi penting, maka nama jangan dibuat terlalu kecil hanya karena desain ingin memasukkan banyak logo sponsor.
Begitu juga dengan kategori. Kalau tulisan PANITIA penting untuk memudahkan peserta mencari bantuan, jangan sampai ukurannya justru lebih kecil daripada elemen dekorasi.
Sebenarnya co card bisa digunakan pada banyak jenis kegiatan. Selama ada kebutuhan untuk membedakan atau mengenali orang-orang yang terlibat dalam acara, kartu identitas seperti ini bisa sangat membantu.
Seminar dan workshop merupakan contoh yang paling mudah. Begitu juga konferensi, pelatihan, gathering perusahaan, kegiatan kampus, organisasi, komunitas, maupun acara keagamaan.
Untuk kebutuhan yang lebih spesifik, misalnya kartu identitas khusus panitia, tersedia pula pembahasan mengenai co card panitia. Sementara untuk kegiatan pengajian, konsepnya dapat disesuaikan seperti pada co card untuk pengajian.
Yang menarik, satu acara bahkan bisa menggunakan beberapa jenis co card sekaligus. Panitia, peserta, speaker, VIP, dan media tidak harus menggunakan informasi yang sama.
Desain dasarnya boleh dibuat seragam agar branding tetap konsisten, kemudian kategorinya dibedakan berdasarkan tulisan, warna, atau elemen visual tertentu.
Nah, ini salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul.
Co card dan ID card memang sama-sama digunakan sebagai kartu identitas, tetapi konteks penggunaannya biasanya berbeda.
ID card lebih umum digunakan sebagai identitas seseorang dalam sebuah perusahaan, organisasi, sekolah, kampus, atau institusi. Contohnya adalah ID card karyawan yang dipakai setiap hari selama bekerja.
Sementara co card biasanya lebih erat kaitannya dengan kegiatan atau acara tertentu. Seorang peserta seminar dapat menggunakan co card selama seminar berlangsung, tetapi kartu tersebut belum tentu digunakan lagi setelah acara selesai.
Jadi, sebenarnya keduanya tidak perlu dianggap sebagai dua jenis kartu yang benar-benar berbeda secara fisik.
Seorang karyawan bahkan bisa memiliki ID card perusahaan dan kemudian mendapatkan co card ketika menjadi panitia sebuah acara perusahaan.
Perbedaannya lebih mudah dilihat dari tujuan penggunaannya:
| Aspek | Co Card | ID Card |
|---|---|---|
| Fokus | Identitas dalam kegiatan | Identitas pemegang |
| Penggunaan | Umumnya untuk event tertentu | Bisa digunakan jangka panjang |
| Informasi | Identitas + peran dalam acara | Identitas + informasi institusi |
| Contoh | PANITIA, PESERTA, SPEAKER | Karyawan, anggota, siswa |
| Desain | Mengikuti tema acara | Mengikuti identitas institusi |
| Lanyard | Bisa digunakan | Bisa digunakan |
Jadi kalau Anda sedang menyiapkan identitas untuk sebuah event, jangan terlalu pusing dengan istilahnya. Yang lebih penting adalah menentukan siapa yang menggunakan kartu tersebut, apa informasi yang perlu ditampilkan, dan bagaimana kartu itu akan digunakan.
Kalau sudah sampai pada tahap mencetak co card, biasanya pertanyaan berikutnya adalah, “ukurannya pakai berapa?”
Sebenarnya tidak ada satu ukuran co card yang wajib digunakan untuk semua acara. Ukuran kartu bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Ada acara yang cukup menggunakan kartu berisi nama dan kategori, tetapi ada juga yang membutuhkan foto, instansi, jabatan, QR code, dan informasi lainnya.
Jadi, daripada menentukan ukuran terlebih dahulu, lebih aman menentukan isi co card dan cara penggunaannya. Setelah itu baru dipilih ukuran yang membuat seluruh informasi tetap nyaman dibaca.
Hal lain yang sering terlupakan adalah holder. Kalau co card nantinya dimasukkan ke ID card holder, ukuran kartu harus disesuaikan dengan ruang yang tersedia di dalam holder. Jangan sampai desain sudah selesai tetapi kartu ternyata terlalu besar atau justru terlalu kecil.
Sebagai gambaran, ukuran kartu identitas yang digunakan dalam berbagai kebutuhan memang cukup beragam. Anda bisa melihat referensi ukuran ID card dalam cm sebelum menentukan ukuran akhir co card.
Ada beberapa pertimbangan yang sebaiknya dilihat bersamaan.
| Pertimbangan | Kenapa penting? |
|---|---|
| Jumlah informasi | Menentukan seberapa luas area desain yang diperlukan |
| Ukuran nama | Nama harus tetap mudah dibaca |
| Foto | Membutuhkan area tambahan jika digunakan |
| Kategori | Tulisan seperti PANITIA atau SPEAKER harus terlihat jelas |
| Logo | Tetap membutuhkan ruang untuk branding |
| Holder | Kartu harus sesuai dengan ukuran holder |
| Cara dikenakan | Kartu harus nyaman ketika digantung |
| Lama penggunaan | Acara seharian membutuhkan pertimbangan kenyamanan |
Misalnya co card hanya berisi nama, foto, dan tulisan PANITIA. Anda tidak membutuhkan ruang sebanyak kartu yang juga memuat jabatan, instansi, nomor peserta, QR code, dan informasi lainnya.
Jadi, ukuran yang “bagus” bukan ukuran yang paling besar atau paling kecil. Ukuran yang bagus adalah ukuran yang membuat informasi penting mudah dibaca sekaligus nyaman dikenakan.
Ada satu kesalahan yang cukup mudah terjadi ketika membuat desain co card. Desain terlihat bagus ketika dibuka di layar komputer, tetapi setelah dicetak dan dikenakan, tulisannya ternyata terlalu kecil.
Ini terjadi karena desainer sering melihat kartu dalam kondisi diperbesar. Padahal ketika digunakan di acara, co card mungkin hanya terlihat dari jarak satu atau dua meter.
Karena itu, desain sebaiknya dibuat dengan memikirkan kondisi penggunaan sebenarnya. Apa yang pertama kali harus dilihat orang? Apa yang perlu diketahui dalam beberapa detik? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa menjadi dasar menentukan hierarki desain.
Kalau tujuan utama co card adalah identifikasi, nama tentu menjadi salah satu informasi yang paling penting.
Jangan sampai nama justru dibuat kecil karena terlalu banyak ruang digunakan untuk logo atau ornamen. Pilih jenis huruf yang jelas dan memiliki kontras yang cukup dengan latar belakang.
Untuk acara dengan banyak peserta, nama yang mudah dibaca akan sangat membantu interaksi. Orang lain bisa langsung mengetahui nama lawan bicaranya tanpa harus bertanya ulang.
Kalau dalam satu acara ada panitia, peserta, speaker, VIP, dan media, kategori tersebut sebaiknya mudah dikenali.
Tidak harus selalu menggunakan warna berbeda. Bisa juga menggunakan ukuran huruf, posisi, bentuk label, atau elemen visual lainnya.
Contohnya tulisan PANITIA dapat ditempatkan di bagian yang cukup menonjol. Ketika peserta membutuhkan bantuan, mereka bisa lebih cepat menemukan orang yang tepat.
Co card memang bisa menjadi media branding. Nama acara, logo perusahaan, logo sponsor, dan elemen visual lainnya dapat dimasukkan ke dalam desain.
Tetapi kalau semua logo ingin dibuat besar, akhirnya ruang untuk informasi utama menjadi semakin sedikit.
Lebih baik tentukan prioritas. Mana logo penyelenggara? Mana sponsor? Mana informasi pemegang kartu? Setelah prioritas tersebut jelas, desain akan jauh lebih mudah disusun.
Dengan cara ini, co card tetap terlihat profesional tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai kartu identitas.
Co card bisa dibuat dalam format portrait maupun landscape. Tidak ada aturan bahwa salah satunya selalu lebih baik.
Kalau nama dan kategori menjadi fokus utama, format portrait bisa memberikan ruang vertikal yang cukup. Kalau informasi lebih banyak tersusun ke samping, landscape bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai.
Yang penting, jangan menentukan orientasi hanya karena terlihat lebih bagus di template. Lihat kembali bagaimana kartu tersebut akan dipasang pada holder dan dikenakan oleh peserta.
Bisa. Bahkan kombinasi co card dan lanyard cukup praktis untuk kegiatan yang membutuhkan identitas yang selalu terlihat.
Co card dapat dimasukkan ke dalam holder, kemudian holder tersebut dihubungkan dengan lanyard menggunakan kait. Peserta tinggal mengenakan tali di leher sehingga kartu tidak perlu dipegang terus-menerus.
Untuk acara yang berlangsung berjam-jam, cara seperti ini tentu lebih praktis. Panitia juga lebih mudah mengenali kategori peserta tanpa meminta mereka mengambil kartu dari tas atau saku.
Di sisi lain, lanyard juga bisa menjadi bagian dari tampilan acara. Misalnya warna tali dibuat mengikuti warna branding perusahaan, kemudian logo atau nama acara dicetak pada permukaannya.
Kalau kebutuhan Anda adalah membuat tali identitas sekaligus menyesuaikan desainnya dengan kebutuhan event, cetak tali lanyard custom bisa menjadi pilihan yang lebih fleksibel dibanding menggunakan tali polos.
Kalau dilihat sebagai satu sistem, sebenarnya co card, holder, dan lanyard saling melengkapi.
Co card menjadi media untuk menampilkan informasi. Holder menjadi tempat sekaligus pelindung kartu. Sedangkan lanyard digunakan agar kartu dapat dikenakan dengan mudah.
Misalnya sebuah perusahaan mengadakan workshop. Peserta mendapatkan kartu yang berisi nama, instansi, dan kategori peserta. Kartu dimasukkan ke holder, kemudian dipasang pada lanyard yang menggunakan identitas visual perusahaan.
Hasilnya bukan hanya lebih praktis, tetapi juga membuat tampilan peserta terlihat lebih seragam.
| Komponen | Fungsi |
|---|---|
| Co card | Menampilkan identitas dan peran |
| Holder | Menempatkan dan melindungi kartu |
| Lanyard | Tali untuk mengenakan kartu |
| Hook/kait | Menghubungkan kartu/holder dengan lanyard |
| Stopper | Komponen tambahan pada konfigurasi lanyard tertentu |
Untuk kebutuhan perusahaan yang ingin tampilan branding lebih kuat, lebar tali juga bisa dipertimbangkan. Misalnya lanyard 2,5 cm untuk branding perusahaan memberikan area visual yang lebih luas dibandingkan tali yang lebih sempit.
Sebaliknya, untuk kebutuhan identitas yang lebih sederhana, konfigurasi yang lebih minimal juga sudah cukup. Jadi tidak semua event membutuhkan aksesori yang sama.
Kalau dilihat sekilas, co card dan ID card memang bisa terlihat hampir sama. Keduanya sama-sama berbentuk kartu identitas, bisa mencantumkan nama dan foto, bahkan sama-sama dapat dipasang pada lanyard.
Lalu, apa sebenarnya yang membedakan?
Perbedaan paling mudah dilihat dari konteks penggunaannya. Co card biasanya dibuat untuk membantu identifikasi seseorang dalam sebuah kegiatan tertentu. Sementara ID card memiliki penggunaan yang lebih luas sebagai identitas seseorang dalam perusahaan, organisasi, sekolah, kampus, atau institusi.
Misalnya seorang karyawan mempunyai ID card perusahaan yang digunakan setiap hari. Ketika perusahaan tersebut mengadakan seminar dan karyawan tadi menjadi panitia, ia bisa mendapatkan co card khusus bertuliskan PANITIA. Jadi, satu orang bisa saja menggunakan ID card dan co card untuk dua kebutuhan yang berbeda.
| Aspek | Co Card | ID Card |
|---|---|---|
| Tujuan | Identifikasi dalam kegiatan | Identitas seseorang/institusi |
| Penggunaan | Umumnya untuk event tertentu | Bisa digunakan jangka panjang |
| Informasi | Nama, peran, kategori acara | Nama, foto, jabatan, instansi |
| Kategori | Peserta, panitia, speaker, VIP | Karyawan, anggota, siswa, mahasiswa |
| Desain | Sering mengikuti tema acara | Mengikuti identitas institusi |
| Masa penggunaan | Biasanya selama kegiatan | Bisa digunakan dalam periode tertentu |
| Lanyard | Bisa digunakan | Bisa digunakan |
Jadi, jangan terlalu terpaku pada istilahnya. Kalau kebutuhan Anda adalah identitas untuk sebuah seminar, workshop, gathering, atau kegiatan lainnya, yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah fungsi kartu tersebut, bukan sekadar apakah namanya co card atau ID card.
Co card lebih cocok ketika identitas seseorang perlu dikaitkan dengan sebuah kegiatan tertentu.
Contohnya seminar perusahaan. Ada peserta yang datang dari berbagai perusahaan, ada pembicara, panitia, tamu VIP, dan mungkin media. Dalam kondisi seperti ini, co card membuat masing-masing kelompok lebih mudah dikenali.
Hal yang sama berlaku pada workshop, konferensi, pelatihan, gathering, kegiatan kampus, maupun kegiatan organisasi. Selama ada kebutuhan untuk membedakan orang berdasarkan peran atau kategori dalam acara, co card bisa menjadi solusi yang praktis.
Apalagi kalau acaranya cukup besar. Panitia tidak mungkin mengenal seluruh peserta secara personal. Dengan kartu identitas yang jelas, komunikasi di lokasi acara menjadi lebih mudah.
Untuk acara perusahaan, co card juga bisa dibuat mengikuti identitas visual perusahaan. Misalnya menggunakan warna corporate, logo perusahaan, nama kegiatan, dan kategori peserta.
Dengan begitu, kartu tidak hanya berfungsi sebagai identitas tetapi sekaligus menjadi bagian dari tampilan profesional acara.
Kalau kemudian kartu tersebut dikenakan menggunakan lanyard, desain tali juga bisa dibuat senada dengan co card. Jadi keseluruhan identitas terlihat lebih rapi dan konsisten.
ID card lebih cocok ketika kartu tersebut memang dimaksudkan sebagai identitas pemegang dalam organisasi atau institusi, bukan hanya untuk satu kegiatan.
Contoh paling mudah adalah ID card karyawan. Kartu tersebut bisa digunakan setiap hari untuk menunjukkan bahwa seseorang merupakan bagian dari perusahaan tertentu.
Begitu juga dengan kartu identitas anggota organisasi, mahasiswa, siswa, atau staf sebuah institusi. Masa penggunaannya biasanya tidak hanya terbatas pada satu event.
Karena itu, ketika membuat ID card, informasi seperti nama, foto, jabatan, departemen, atau identitas institusi biasanya menjadi lebih penting dibandingkan informasi tema sebuah acara.
Secara bentuk, co card panitia dan peserta sebenarnya tidak harus berbeda. Yang lebih penting adalah informasi dan penanda kategorinya.
Untuk panitia, tulisan seperti PANITIA atau nama divisi sebaiknya mudah terlihat. Tujuannya supaya peserta bisa segera menemukan orang yang dapat membantu mereka.
Sementara untuk peserta, informasi seperti nama dan asal instansi biasanya lebih diutamakan. Kalau acara memiliki kategori peserta tertentu, kategori tersebut juga bisa ditampilkan.
Contohnya seperti ini:
| Pemakai | Informasi yang bisa ditonjolkan |
|---|---|
| Panitia | Nama, foto, PANITIA, divisi |
| Peserta | Nama, instansi, PESERTA |
| Speaker | Nama, foto, SPEAKER, instansi |
| VIP | Nama, instansi, VIP |
| Media | Nama, media, MEDIA |
| Crew | Nama, divisi, CREW |
Cara seperti ini sebenarnya cukup sederhana, tetapi dampaknya besar untuk acara yang pesertanya banyak.
Orang tidak perlu membaca seluruh kartu. Cukup melihat labelnya, mereka sudah tahu apakah orang tersebut panitia, peserta, speaker, atau kategori lainnya.
Tidak wajib, tetapi lanyard merupakan salah satu cara paling praktis untuk mengenakan co card.
Kalau co card hanya diberikan dalam bentuk kartu lepas, peserta harus menyimpannya di saku atau memegangnya. Ini tentu kurang praktis kalau acara berlangsung sepanjang hari.
Dengan lanyard, kartu bisa digantung di leher sehingga selalu berada di bagian depan tubuh. Identitas juga lebih mudah terlihat oleh peserta maupun panitia lainnya.
Selain itu, lanyard dapat dimanfaatkan sebagai elemen branding. Misalnya logo perusahaan atau nama acara dicetak pada tali sehingga tampilan antara co card dan lanyard terasa lebih menyatu.
Untuk kebutuhan perusahaan, pilihan konfigurasi lanyard juga bisa disesuaikan dengan fungsi dan tampilan yang diinginkan. Misalnya lanyard perusahaan custom dapat digunakan ketika tali bukan hanya sebagai penggantung kartu tetapi juga bagian dari identitas visual perusahaan.
Jangan langsung memilih lanyard hanya berdasarkan harga atau ukuran tali. Coba lihat dulu bagaimana co card akan digunakan.
Kalau acaranya formal, misalnya seminar perusahaan atau konferensi, desain lanyard bisa dibuat lebih sederhana dan profesional. Warna dapat mengikuti identitas perusahaan sehingga keseluruhan tampilan terlihat konsisten.
Kalau acaranya lebih santai, seperti gathering komunitas atau kegiatan kampus, desain bisa dibuat lebih kreatif.
Selain desain, perhatikan juga lebar tali, bahan, kait, stopper, dan finishing. Semua komponen tersebut akan menentukan bagaimana lanyard terlihat dan terasa ketika digunakan.
Untuk kebutuhan yang membutuhkan area cetak lebih luas, misalnya branding perusahaan yang cukup dominan, lebar tali juga perlu dipertimbangkan sejak awal.
Supaya tidak bolak-balik revisi, sebaiknya beberapa hal sudah diputuskan sebelum file masuk produksi.
Pertama, tentukan siapa saja yang akan menggunakan kartu. Apakah hanya peserta dan panitia, atau ada speaker, VIP, media, sponsor, dan kategori lainnya?
Kedua, tentukan informasi yang akan ditampilkan. Jangan memasukkan terlalu banyak informasi kalau memang tidak diperlukan.
Ketiga, tentukan ukuran kartu dan holder. Setelah itu barulah desain dibuat dengan mempertimbangkan ukuran sebenarnya.
Terakhir, tentukan lanyard dan aksesori yang akan digunakan. Dengan begitu, desain co card dan lanyard dapat dibuat sebagai satu kesatuan.
Untuk mengetahui komponen dan pilihan yang tersedia sebelum menentukan spesifikasi, Anda juga bisa melihat layanan cetak lanyard custom dan menyesuaikannya dengan kebutuhan acara.
Pada akhirnya, co card bukan sekadar kartu nama yang digantung di leher. Dalam sebuah event, kartu ini bisa membantu peserta mengenali panitia, membedakan kategori peserta, mengetahui siapa pembicara, sekaligus memperkuat identitas visual acara.
Perbedaan co card dengan ID card juga lebih mudah dipahami jika dilihat dari konteksnya. Co card lebih banyak digunakan untuk identifikasi dalam kegiatan tertentu, sedangkan ID card lebih umum digunakan sebagai identitas seseorang dalam institusi atau organisasi.
Dan kalau co card akan digunakan sepanjang acara, kombinasi dengan lanyard dan holder biasanya menjadi pilihan yang paling praktis. Yang penting, semuanya dirancang berdasarkan kebutuhan sebenarnya—mulai dari isi kartu, ukuran, desain, sampai konfigurasi lanyard.
Dengan begitu, hasil akhirnya bukan hanya terlihat bagus ketika dicetak, tetapi juga benar-benar nyaman digunakan dan mudah dibaca ketika acara berlangsung.